Being Agnostic?

My boss, Eoghan, once said that he was an agnostic .

Beliau menjelaskan ia percaya adanya Tuhan, namun tidak percaya agama. Beliau berkata, agama telah membuat manusia tersekat-sekat dan saling bermusuhan. Beliau mengambil contoh, mulai dari Kristen dengan inkuisisi dan era kegelapannya di Eropa, lalu Islam yg melakukan penaklukan daerah-daerah di sekitar jazirah arab dan perluasannya, lalu pemberantasan dan propaganda kaum yahudi, lalu agama ini dan itu. Beliau menyimpulkan bahwa tidak ada satupun agama yg benar dan murni. Manusia telah membuat agama-agama yang ada terkontaminasi dengan 'hal-hal lain'. Entah itu politik kekuasaan, monopoli perekonomian, dan maksud-maksud tertentu lainnya. Tapi beliau percaya, Tuhan itu ada, somewhere. Dan Beliau akan melakukan/mengimplementasikan hal-hal/ritual dari ajaran agama manapun, selama itu membawa manfaat dan menuju kebaikan.

Sekilas terdengar masuk akal ya? iya.

Dulu pun gw berfikiran seperti itu. Tapi setelah gw telisik lebih jauh..

Pertama, kalau benar agama itu sumber konflik.. Memangnya kalau ga ada agama, yakin manusia gak akan saling memerangi satu sama lain memperebutkan kekuasaan, tahta, harta, dan wanita? Manusia itu selain berkecenderungan menyukai kebaikan, manusia juga memiliki kecenderungan yang sama besarnya untuk menjadi kacau. Manusia itu makhluk yg paling complicated, sumber chaos, karena memiliki emosi yang bersanding dengan nafsu. Suka atau tidak, kita ini butuh stabilizer.

Kedua, pemikiran bahwa: "Tidak ada agama yg benar-benar murni" adalah hal yg sangat konyol dan lucu, menurut gw pribadi. Kenapa? Sebentar, kita lagi ngomongin apa sih? Tuhan. Kita lagi ngomongin Tuhan kan? Halo..kalo kita sadar lagi ngomongin Tuhan, kenapa argumen tadi terdengar seperti kita merendahkan nilai Tuhan di hadapan kita sendiri a.k.a manusia yang diciptakan oleh Tuhan?
Kenapa Tuhan menjadi tidak mampu mengenalkan dirinya sendiri kepada makhluk-makhlukNya? Kenapa Tuhan tidak bisa mengenalkan diriNya sendiri sesuai dengan bagaimana ia ingin diriNya dikenal? Kenapa Tuhan tidak bisa memberikan petunjuk kepada umat manusia tentang bagaimana ia ingin diriNya disembah?
Kenapa dan bagaimana bisa Tuhan kehilangan kekuatan absolutnya untuk menjaga barangkali satuu saja agama/petunjuk yang tidak ternoda kemurniannya sampai akhir zaman? Emang susah banget ya bagi Tuhan? Selemah dan segagal itukah Tuhan? Lalu apakah Tuhan kemudian akan menyerah dengan manusia-manusia yang berebutan kekuasaan, kemudian pasrah dan tidak berdaya membiarkan agama yang ingin Ia tetapkan sebagai wahyuNya yang orisinil menjadi teroplos dengan kebohongan dan kemunafikan? It doesn't make sense to me.

Nah, sekarang kan permasalahannya hanya tentang bagaimana -kita- memecahkan teka-teki ini, yaitu menemukan agama yang paling murni, yang dari zaman diturunkannya wahyu tidak berubah sedikitpun keorisinilannya hingga saat ini. Adakah?
Well, saya kerap kali mengatakan: do your own observation and go find the truth
Saya tidak mau terkesan menggurui *woelah udah pake sayah-sayahan :D*
Tapi mungkin saya akan membantu memberikan clue-clue yang saya pakai dalam menemukan Tuhan saya. Sebelumnya, dengan segala kerendahan hati saya meminta maaf jika tulisan ini menimbulkan ketidaknyamanan. Anggaplah ini bagaimana alur berpikir saya dalam menggapai suatu kesimpulan. Dan tulisan ini tidak bermaksud untuk mempengaruhi orang lain untuk agama yang saya anut, hanya menertibkan turbulensi di dalam otak :)

*

First of all, Tuhan itu bukan makhluk. Ia lah yang menciptakan makhluk. Tuhan adalah sesuatu yang tidak terikat dengan sifat-sifat kemakhlukan. Ia harus terbebas dari hal-hal yang berkaitan dengan relativitas, yaitu: dimensi ruang, waktu, daya dan guna. Tuhan harus bersifat absolut tidak terbatas. Sampai sini setuju? Jadi, kalau ada tuhan yang masih dipengaruhi oleh ruang, waktu, daya dan guna, apapun yang bersifat duniawi yang non-permanen, berarti ia bukan Tuhan.

Kalau setuju berarti pertanyaan "Dimana, kapan, bagaimana dan siapa yang menciptakan Tuhan?" sudah tidak relevan lagi untuk dilontarkan.
Dimana: berhubungan dengan dimensi tempat. Bagian dari alam.
Kapan: berhubungan dengan dimensi waktu
Bagaimana: berhubungan dengan dimensi wujud dan guna
Siapa yang menciptakah Tuhan? Well, ini yang tidak terjangkau oleh akal manusia dan seringkali yang dijadikan senjata oleh kaum agnostik/atheis. Jangan kecewa ya.. jawabannya adalah Tuhan. Diawali oleh Tuhan dan dihentikan Tuhan. Tiada awal dan tiada akhir. Ia ada sebelum kata ada itu ada, dan Ia ada sampai kata ada itu tidak lagi ada.

Di antara orang-orang kuat pasti ada yang terkuat. Di antara mulia-mulia pasti ada yang termulia.  Diantara penguasa pasti ada yang paling berkuasa. Di antara tempat-tempat yang tinggi pasti ada tempat yang tertinggi. Di antara kebenaran nisbi pasti ada kebenaran absolut. Hanya ada satu yang benar. Tunggal. Ahad. Esa. Satu.. Tauhid.
Sampai sini setuju?
Okei, sampai disini kemudian pertanyaan multi Tuhan? Politheisme? Dewa-dewi? atau trinitas boleh dianulir dulu :)

Sekarang, silahkan cari di kitab yang dianggap suci oleh umatnya..adakah yang memenuhi persyaratan Tuhan di atas? Jika ada yang menyatakan bahwa: Tuhan itu satu, bebas dari relativitas dan bersifat absolut, tidak hidup dan tidak mati, tidak berbentuk manusia dan tidak dipersonifikasikan oleh imajenasi manusia (Tuhan dalam bentuk gajah bertangan banyak? Tuhan yang digambarkan dengan lukisan dan patung-patung? Tuhan bisa dijangkau dengan imajenasi manusia? What do you think?)

Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak satu makhluk pun yang menyerupai-Nya" (QS. Al-Ikhlas 1-4)

**

Ketiga, (1) semua agama adalah sama, (2) karena semua agama mengajarkan kebaikan" adalah teori yang sangat usang. 

Premis pertama jelas sangat absurd. Bagaimana mungkin semua agama dibilang sama padahal siapa Tuhannya berbeda, konsep antar agama itu berbeda, ada yang percaya bahwa Tuhan itu esa, ada lagi yang berpendapat Tuhan itu tiga, ada pula yang menyatakan Tuhan itu banyak, ada lagi yang menyembah benda-benda, manusia, makhluk berupa dewa-dewa. Otomatis jika konsep masing-masing agama dan Tuhannya saja sudah berbeda berarti aturan, tuntunan dan tuntutan juga pasti berbeda. How come you can think that's all the same? 

Premis kedua, semua agama mengajarkan kebaikan. Ini kalimat yang sangat menjebak. Kalau anda membaca hal ini sambil manggut-manggut tanda setuju, well selamat anda terjebak dengan teori relativitas yang tak berujung. Baik dan buruk, benar dan salah itu seharusnya sejelas warna hitam dan putih. Tidak ada kebaikan yang samar atau abu-abu.
Konsep masing-masing agama bukannya memliki definisi kebaikan yang berbeda satu sama lain bukan? Misalnya, di Islam memiliki definisi tersendiri antara makanan yang baik dan halal, dan mana yang tidak baik dikonsumsi. Dan hikmah dari pelarangan itu baik karena berbahaya bagi kesehatan. Di lain sisi, ada agama yang tidak melarang mengonsumsi apapun. Dan ada pula agama yang sama sekali melarang mengkonsumsi daging hewani. Jadi mana dong yang benar? Ini hanya sebagian contoh kecil. Tapi sampai disini sudah bisa tarik benang merahnya kan? Jadi definisi kebaikan itu sangat tergantung dengan konsep dan nilai yang diusung dari masing-masing agama. Tidak bisa dipukul rata. 

Penyamaan agama = peniadaan agama. Bisa saja kau melebur semua ajaran agama yang menurutmu itu berisi nilai-nilai kebaikan, dan kau tahu kau telah menciptakan agama baru yaitu agama yang sesuai seleramu. Dan jika di dunia ini ada 6 Milyar manusia yang menduduki bumi dengan mindset seperti itu, berarti akan ada 6 Milyar agama. Dan kau jelas tahu bahwa agama yang kau buat tadi menyimpang dari sumber yang murni karena berhasil kau lebur dari sumber sana-sini. Selamat. You're not help anyone, even help yourself to find the truth.

Kenapa sih gw sotoy banget ngomongin agnostik? It's simply because gw pernah berada di titik ini. Kesimpulan yang gw dapatkan adalah agnostik bukan lah suatu jawaban, melainkan sebuah proses awal tentang pencarian gw akan agama.
Apa itu agama?
Apakah agama merupakan kebutuhan manusia?
Kenapa kita butuh agama?
Kenapa banyak sekali agama di dunia ini? Siapa yang bikin? Mana agama yang benar? Mana Tuhan yang benar? Apa itu kebenaran?
Apa implikasi dari beragama?
Akibat apa yang dihasilkan dari sebuah agama terhadap kehidupan saya?
Apa yang Tuhan inginkan dari saya?

Dan gw menemukan ternyata lebih dari itu, agama adalah "kebutuhan dasar". Sesuatu yang sangat fundamental dan patut dipikirkan oleh setiap makhluk berakal. Kenapa? Karena, ketika kita mengenal siapa Tuhan kita, kita akan mengerti apa sih maksud Dia menciptakan kita. Tujuan hidup.

Mikirin ini semua capek men. Cape otak. Banyak hal yang belum kita tahu. Dalam waktu yang bersamaan, terlalu banyak input dan informasi yang berdatangan, serabutan, bahkan kita dibuat kebingungan mana informasi yang benar, mana yang hanya sekedar noise untuk memblurkan kebenaran. Otak kita pun terbatas dalam mengolah informasi. Belum lagi bisikan prasangka-prasangka. Maka berdoalah. Minta petunjuk kepada Maha Segala, agar diluruskan dan tetap ikhlas dalam pencarian

Pernah di suatu titik, rasanya gw mau menyerah aja dengan semua pertanyaan-pertanyaan serius ini. Bisa kah kita membuat hidup ini tetap sederhana, mengenyangkan jiwa dan akal hanya dengan kebaikan-kebaikan yang bersifat universal saja? Seperti tersenyum itu baik, membunuh itu perbuatan keji, memberi hadiah itu baik, tolong menolong itu baik dst dst dst. Tapi, tidakkah kau ingin tahu siapa penciptamu? Tidakkah kau ingin berkenalan dengan Tuhanmu? Tidakkah kau merindukan pertemuan dengan penciptamu?Tidakkah kau ingin tahu kebenaran? Well, the choice is yours :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

shitty day

Apa itu bahagia?

Kenapa Menulis??