Mencari Tuhan
Something let this happen. I believe, Something let me
drawn into this war in my head.
...
Gw mulai stres. Gw mulai melihat segala sesuatu dengan
perspektif yang berbeda. Di meja makan, gw melihat orang-orang di sekitar
gw...mereka tertawa, bercanda, bersenang-senang. Ada yang terhimpit dengan kesenangan duniawi,
ada juga yang terhimpit dengan kesibukan duniawi..sampai-sampai
mereka tidak ingat "hal-hal lain". Sisanya? berapa banyak orang sih
yang memikirkan apa yg gw pertanyakan? Jangan-jangan mereka sudah mengalami
fase ini dan menemukan jawabannya, sedangkan gw telat mikir di umur yang
nanggung ini? Ataukah mereka tidak peduli?
Ada beberapa teman yang sadar dengan perubahan gw. Tapi gw
sedikit dongkol ketika ada yang nyeletuk, "udah lah git, lo mikirin ginian
mah gak akan ada ujungnya...". Huh, really? Pasti ada ujungnya. Liat aja.
Pasti ada.
Seberapa penting kebenaran ini berperan? Kenapa semua orang
terlihat hanya peduli dengan hiburan? dan mungkin betapa terlihat konyolnya
orang yang menghabiskan pikiran, waktu dan tenaganya untuk ini. HELP! Gw
butuh teman diskusi, tapi setiap gw buka topik beginian rasanya gw kaya ngomong
sama tamagochi. Jadi..perlahan-lahan gw mundur, meninggalkan gegap gempita di
sekeliling gw. Gw jadi lebih suka menyendiri, bersemayam dengan buku dan mbah
gugel.
...
Di lain sisi, gw semakin menyelami rasa ingin tahu gw. Gw
mulai membandingkan kepercayaan-kepercayaan besar yang memiliki pengikut
mayoritas. Mungkin historis bisa membantu gw menjawab pertanyaan-pertanyaan
ini. Sejarah ada karena umur peradaban terus berlanjut sedangkan umur biologis
kita sesebentar kedipan mata. Apa yang gw dapatkan? Gw mencoba mencari
segala jawaban, gw tukar waktu tidur malam dengan baca buku, literatur, lalala
kemudian baru tidur jam 6 paginya. Dan itu berlangsung berminggu-minggu. Ada
kalanya gw seperti mendapat pencerahan 'oh, Eureka!" lalu kemudian cahaya
itu dipadamkan dengan referensi yang kontra..begitu seterusnya sampe
berbulan-bulan. Fak. Mana yang lo pikir lebih berbahaya? 100% hoax atau 99%
truth+ 1% lies? Ketika 99% persen kebenaran membungkus 1% kebohongan, itu lebih
berbahaya. Lo melakukan pencarian yang saaangat panjang, tapi karena lo merasa
telah membuktikan bahwa 80% adalah fakta, lo terbuai dan tidak mengkoreksi lagi
akan sisanya. Lalu darimana gw tahu sejarah yang mereka tulis benar?
Apakah jangan-jangan kebenaran adalah suatu konsesnsus yang telah mengalami
pemelintiran sana sini, pembelokan, dan didandani agar enak terdengar? Tapi
semakin lama mencari yang gw dapatkan malah semakin blurring.
Pfft.. Ternyata gw belum pernah berfikir sekeras dan
semaksimal ini. Hari-hari berikutnya gw merasakan dendrit-dendrit otak berotot
saking kebanyakan mikir. Gw ga mikirin skripsi. Gw menghilang dari peredaran.
Hal yang satu ini sebegitu mengganjalnya sampe-sampe gw ga bisa ngelanjutin hal
lain kalau ini belum selesai. Tapi sampe kapaaan?
Sudah lima bulan lebih gw melakukan pencarian. Gw ga
percaya lagi sama media massa mainstream, situs-situs ga bertanggung
jawab, tulisan-tulisan provokatif yang menyebarkan kebencian di antara
agama-agama, tokoh terkemuka, atau literatur/sejarah yang belakangan
gw tau ternyata mereka adalah kelompok orientalis yang mempunyai agenda
tertentu...segala karangan tangan-tangan kotor manusia. Semakin gw
terombang-ambing dgn kebingungan ini, semakin gw berusaha keras nyari jalan
keluar. Ketidaktahuan ini membuat gw merasa amat bodoh, lemah dan
fragile. Then, if God really exist... apa yang Tuhan
sisakan untuk gw? Jahat sekali jika Ia ada, tetapi tidak meninggalkan barang
sedikitpun petunjuk sehingga makhluk-makhluk seperti gw ini jungkir balik
mencari tanpa hasil. Dimana gw bisa menemukan bukti-bukti otentik tentang
kebenaranNya? Apa yang tersisa untuk gw jadikan pegangan?
Sebelum gw menemukan kebenaran, menggantungkan diri sebagai
orang atheis. Atheis? Sudah benarkah gw? Jika gw mengkultuskan diri sebagai
atheis.. Pernahkah kau merasa pasrah pada entah apa itu-mungkin pada suatu
kuasa yang tak dapat kau definisikan? Seperti pasrah ketika melihat binatang
kesayanganmu menjadi korban tabrak lari, terkulai lemas dipinggir jalan dengan
nafas yang tersenggal-senggal; Seperti pasrah ketika orang tua yang kau
sanyang pergi; Seperti pasrah ditimpa penyakit yang sulit disembuhkan; Seperti
pasrah melihat angin senja yang meniupi bunga-bunga kertas yang sebagian busuk
dan kering, sedang kau tidak dapat mengulang pagi dan meninggalkan perasaan
amat kehilangan. Kepasrahan datang, dan kau mulai berharap. Kau tidak bisa
mengingkariNya ketika secara tak sadar bibirmu mengucap ,"semoga..."
Sampai di suatu titik kulminasi, jam 3 malem, gw begitu
putus asa. Gw capek dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghimpit ini. Gw merasa
tersesat. Kebingungan. Apakah gw berlebihan memikirkan ini? That's funny if I
remind that I used to laugh at people who take the things too seriously. And
tara.. now I did it!
Gw merasa ga punya daya lagi, dan akhirnya... gw menangis
sejadi-jadinya. Di dalam tangis, lagi-lagi gw berdoa, "Ya Tuhan, jika
Kau menyukai orang-rang yang berfikir, kemudian jika saya termasuk ke dalam
orang-orang yang berfikir, maka tolong lah saya. Beri lah saya secercah
jawabanMu Tuhan.. Lalu himpun lah saya dengan orang-orang yang mencari
kebenaran, sama halnya seperti saya. Saya merasa sangat sendirian dan sedih.
Kokohkan lah pendirian saya untuk terus mencari jalanMu."
Entah gw nangis berapa lama. Kepala gw sampe pusing. Dan gw
merasakan itu lagi, semacam perasaan dimana secara sadar gw mengakui
keterbatasan dan kelemahan manusia.. dan gw mempasrahkan diri kepada
"kekuatan yang lebih besar". Kekuatan yang Maha Besar. Lalu kepada
siapakah gw menitipkan ratusan atau ribuan "semoga" itu?
Kamar berantakan. Buku berserakan dimana-mana. Laptop
menyala terkoneksi internet entah sudah berapa hari. Ga ngerti, kenapa gw bisa
sehaus dan sepenasaran ini. Dengan mata yang sayu, gw bersandar di sisi yang
berhadapan langsung dengan lemari buku. Setelah bengong lumayan lama, tiba-tiba
gw sadar, dari tadi pandangan kosong gw tertumbuk pada sebuah buku di rak buku
itu; Alquran. Kitab suci dari Tuhan..
Betapa lucunya, justru pilihan terakhir gw adalah wahyu-Nya
sebagai literatur yang wajib untuk diselidiki. Lalu gw buka kitab suci
itu, gw membaca surat-surat yang gw buka random. Gw membaca dengan penuh
ke-skeptisan dan penuh kecurigaan. Begini bunyinya:
“Mereka berusaha memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 32)
Deg! Apakah sebuah kebetulan jika sang Tuhan mempertemukan
gw dengan ayat ini, seolah Ia melemparkan argumenNya secara langsung untuk
mengcounter pendapat-pendapat kaum orientalis yang sangat membenci Islam? Okei,
gw mulai kesulitan mengendalikan air mata yang terjun bebas. God,
is this your answer? Entah mengapa gw merasa sangat sedih dan
tangis gw semakin membludak.
Well, tapi gw masih belum percaya total. Pencarian
selama enam bulan tidak selesai sampai disini. Justru dari sini lah segalanya
dimulai, gw akan menggali agama ini dengan sungguh-sungguh. Semenjak saat itu,
setiap hari, lima kali sehari setelah shalat fardhu, gw selalu membaca al-Quran
dan selalu menangis setiap kali membacanya. Ada perasaan haru sekaligus damai
disana. And you know... semakin hari gw menemukan keajaiban. Ajaib
adalah bukan gw yang baca Al-Quran tapi sepertinya Al-Quran yang membaca pikiran
gw. Semua pertanyaan-pertanyaan yang bergumul di kepala gw ini ada
jawabannya disana:
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al Mukminun: 115)
"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" (QS. Al-Qiyamah: 36)
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (QS. Al-Ankabut: 64)
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa yang dijauhkan dari api neraka dan di masukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang2 yg diberi kitab sebelum kamu dan orang2 yg mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan" (QS: Al-Imran: 186)
"Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) Allah sesudah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal" (QS: Al-Imran: 160)
Apakah ini jawaban yang gw cari-cari? Adalah fitrahnya jika
manusia mencari-cari jawaban yang pasti, bukan? Akan dikemanakan saya setelah
kehidupan ini berakhir? Dan sains tidak memberikan jawaban yang
memuaskan. What can I say? Kitab ini memberikan jawaban-jawaban yang
spesifik dan detail. Dan pencarian masih terus berlanjut...
Bogor, Febuari 2012
Gitaaaa.... menyentuh sekali prosesnya. Kdangkala gw pengen mengalami hal yang sama, pengen merasakan saat damai yg lo rasakan ketika menemukan jawaban.. :3
BalasHapus