Ideal Life (?)
Hai gue Gita, 21 tahun, standar anak muda se-indonesia.
[Jaman SMP]: Sebut lah gue pecinta Mtv dengan berbagai
culture pop-nya. *generasi brain washed detected*. Ga ada yang bisa gw ceritain
banyak dari kehidupan SMP gw, seinget gw dulu gw adalah anak baik-baik dan
penurut yang selalu masuk peringkat 3 besar. :p
[Jaman SMA]: Pengalaman broken home membuat gw menjadi rebel.
Gw benci diatur. Prestasi terbrutal gw adalah nekat kabur dari rumah
(Bogor, tempat nyokap tepatnya) ke Riau (tempat bokap). And that's my very
first flight, alone. Oia, waktu itu internet mulai menjamur! Beralih haluan lah
gw ke band-band indie lokal-internasional yang absurd dan nyeleneh dengan
berbagai alirannya. Gw kecanduan musik metal, hardcore, grunge, punk, post
rock, alternative, sampe yang uncategorized. Yes, semuanya turut berkontribusi
membentuk karakter gue yang rebel, pekak, cuek bebek, sok-sok idealis dan
ngerasa punya pendirian, bedaisme, pecinta aspirasi dengan alasan
'seni'. Sebutlah gue anak muda korban westernisasi, jadi potato coach tiap
malem dan sangat update mengenai masalah news, lifestyle, ini dan itu, tapi ga
kenal tetangga sebelah. HAH!
Betapa pffft-nya hidup gw saat itu. Bisa dibilang ini adalah
era tergelap dalam hidup gw.. gw merasa tenggelam dalam ketidakpedulian
terhadap diri sendiri: merokok, agenda merusak diri, berbohong ke orang tua,
nongkrong ga kenal waktu, buang-buang duit buat hal-hal useless, something like
that.. dan betapa gw butuh rumah saat itu. I can't help myself.
[Jaman Kuliah]: Sebutlah gue salah satu anak muda yang punya rasa
ingin tahu yang sangat tinggi, traveling, naik gunung, backpacking, sampe
gonta-ganti pacar.. fyuh. Sebutlah gue anak muda yang rada males ngomongin
agama karna gw cukup bahagia dengan kebebasan ini. Agama saat itu ga
berkontribusi memberikan kebahagiaan secuil pun. Gw bangga menjunjung tinggi
paham liberalisme, feminisme, sekulerisme, dan berbagai paham yang terdengar
'modern' yang sudah menancap terlalu dalam di pemahaman (dangkal) gw selama
ini. Bahkan di titik ini gw gak punya pikiran mau menikah. Hell yes, gw benci
dengan pernikahan. Pernikahan cuma buat orang lemah yang ga bisa hidup mandiri.
Ya ya, sebutlah gue anak muda yang sangat abu-abu, tidak pernah
putih tapi juga tidak selalu hitam. 'Pembeda' untuk menyatakan baik dan buruk
adalah nilai-nilai kebaikan universal, sudah cukup bagi gw.
...
I think I have spent my 21 years my life, trying to be something.
Sudah kah gue menjadi seseorang? Oh, everything
seems so grey that time. And I'm fine about that.
...
[Last Year]: Tiba saatnya dimana gw melihat kehidupan,
teman-teman, dan segala idealisme basi gue dengan sudut pandang yang berbeda.
21 tahun, gue berusaha ingin menjadi berhasil dalam semua hal di hidup
ini..berhasil di bangku kuliah, di jurusan Arsitektur lanskap, jadi landscape
designer. Gue ingin sukses di hobi-hobi gw.. mau ilustrator, story teller,
a good writer, public speaker, traveller, proffesional
fotografer. Dan gw mulai mendefinisikan ideal life.. ideal jobs,
ideal career, ideal salary, ideal look, ideal lovelife, ideal
date with ideal persons in ideal place, dan segala hal 'serupa' lainnya.
.
..
...
At in the end..i figure out that I've been playing in the wrong game. Selama ini gw
sangat egois. Segala sesuatu hanya 'me, my self and I'. Dan gw menyadari
kelak gw ga akan pernah bisa menjadi manusia seutuhnya atau manusia yang merasa
lengkap..gw hanya sibuk mendekor kehidupan gw, tanpa peduli apapun selain 'gw'.
That's all the same. That's all the same dreams of everyone.
Mass doctrine. Pikiran gw mulai berkecamuk. Gagal paham sama eksistensi diri gw
selama ini. Dan sekarang, gw akan menjadi manusia yang sangat jujur di
sini. Turbulensi di kepala gw mesti ditertibkan.
Sampai titik dimana gw menyadari selama 21 tahun masa berlaku
hidup ini, gw hampa nilai. Bagi gw saat itu, sesuatu yg dapat dikatakan sebagai
ketentraman rohani adalah..looking for fun.
Sesuatu yang bisa bikin gw bertahan waras. Pain
killer. Selain fun, apa lagi yang bisa membuat gw tertawa
memangnya? jokes, adrenaline, money, food, hanya itu yang gw butuhkan untuk
meneruskan kehidupan esok dan esok dan esok..
Jangan tertawa bagaimana gw mengalami distorsi hebat dari makna
rohani sebenarnya :'D
BESIDES, those shitty idealistic thing, what do I know about
'the true ideal life'? Do I really know? Ini
yang tidak gw dapatkan di sekolah mana pun.
Bogor, September 2011
Komentar
Posting Komentar