a tale of Baba


Anak kecil itu selalu menyapaku dengan kegembiraan yang..berlebihan. Aku masih teringat berbagai pose konyol yang ia peragakan, lengkingan suaranya yang memekkakan telinga, pipi merahnya seperti tomat, dan baju lucunya yang kedodoran-dan berbagai benda yang menempel di kepala botaknya setiap kali kita berjumpa. Dengan itu semua, ia menyambutku setiap kali aku membuka pintu pagar.

"Teteh gitaaaa!" menghambur dengan tangan lengketnya berlarian menuju aku. Aku mendekapnya dan melemparinya kecupan bertubi-tubi. Dan rentetan totokan maut di perut gendutnya sampai ia meminta ampun dan kehabisan nafas karna tertawa geli.

Anak bau ini selalu berhasil membuatku merajuk ingin pulang ketika aku merasa tidak punya tenaga. Dia bukan teman yang memberikan tepukan-don't worry everything is gonna be okay-di bahu, atau sahabat yang bisa berkata apa yang ingin aku dengar, atau pacar yang sabar dan penuh perhatian, ya, ia hanya anak kecil dengan seonggok popok jenuh. Tapi ia bisa membuatku…ringan.

Ketika aku kembali kehidupan nyata dan sadar ia bermil-mil jauhnya, aku merasa sangat kehilangan. Dan kangen setengah mati.

Baba, my lil brother

Riau, 27 February, 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

shitty day

Apa itu bahagia?

Kenapa Menulis??