Merah, Lantai Merah.

Tak secerah itu
Tak sehalus itu
Dan aku tersayat lagi
Merahi lantai lagi

Tenang ‘tuk sementara
Jadi malam sementara
Dan aku tersayat lagi
Merahi lantai lagi

Disana..di alam sana
Semua terlihat sama
Tak kan ada yang kecewa
Tapi hanya sementara
Kembali ke lantai lama

Di dalam kamar ini
Ku bersembunyi lagi
Mereka yang kita sayangi
Yang paling mampu melukai

Di sini, ku bebas mewarnai
Dan biru, untuk rumput itu
Dan hijau, untuk langit itu
Apa saja, di tempat itu

Disana di alam sana
Semua terlihat sama
Tak ada yang kecewa
Tapi hanya sementara
Kembali ke lantai lama


~Monkey to millionaire
----------------------------------------
Sebelumnya, di label obrak-abrik kesukaan ini, gw akan membahas lagu, movie, trend, atau apapun itu yang sukses membuat gw "terbungkus" dengan pesonanya. Tapi mungkin lagu-lagu disini akan jarang familiar di telinga orang-orang karena jujur selera musik gw rada nyeleneh. Gw suka dengan hal-hal sidestream yang ga mainstream #apasih. Misal, kalo orang-orang tertarik dengan cherry di atas kue tart, gw malah tertarik dengan gelas plastik polka dot merah jambu yang berisi sirup abc rasa jeruk. Kalo orang-orang seneng nonton acara tv dan mindahin channel ke acara tv lainnya pas iklan, gw malah seneng nontonin iklan dan mindahin channel pas acara tv dimulai. Atau kalo orang-orang tertarik dengan band papan atas yg lagi booming, gw malah tertarik sama band indie lokal yg riuh tepuk tangan penontonnya kalah sama bising knalpot alay. Justru hal-hal yg kecil, terabaikan, dan abnormal yang malah menjadi distraksi buat gw. Menurut gw, banyak hal-hal indah di dunia ini. But, I don't like standard beauty - there is no beauty without strangeness.

Nah, back to the trending topic. potongan sajak diatas merupakan lirik lagu salah satu band indie kesukaan yang membuat gw tertohok seolah gw pernah ngerasain hal serupa. Menurut interpretasi gw yg seenak udel, lagu ini menceritakan tentang seseorang yang memiliki dunianya sendiri - entah nyata atau imajiner - dan memutuskan hidup di dalamnya karena terlalu muak sama dunia yang full of bullshit lah. Dan yang lebih memuakkan adalah, ternyata yang membuat dunia nyata ini semakin menjemukkan justru adalah orang-orang yang kita sayang. Untuk menuju dunia sana -dunia pelarian sesaat, ia selalu berangkat dari tempat yang sama, dan selalu balik ke lantai yang sama, kamarnya sendiri. Sekilas, semacam note bunuh diri. Dan aku tersayat lagi. Merahi lantai lagi.

Satu tahun yang lalu, jauh sebelum gw kenal ini lagu, gw pernah bikin cerpen - The other side of pinokio - yang lebih mirip terdengar seperti racauan daripada cerita. Ada kolerasi yang pas antara cerita dan lagu ini. 
 
Have you ever heard a song  which is the lyric was so perfectly written and somehow so appropriate to your present circumstance that after heard a certain lyric you find yourself over come by a desire to laugh, cry or scream that  song while reminiscing about what you have just read as though it were a fond yet distance memory of a special, sad, happy, or down moment in your life? Gw heran, kenapa begitu banyak buku, puisi, lirik lagu, dialog film, yang terasa begitu pas sama kehidupan personal kita padahal kita tahu setiap nasib orang ga ada yang sama. Tapi begitu lah, sederhananya: Kita manusia. Kita menangis. Kita tertawa. Kita marah. Kita berteriak. Kita berekspresi: Kita manusia.
The best feeling when i hear this song: you're not alone, sir!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

shitty day

Apa itu bahagia?

Kenapa Menulis??