Julius = ijul = Opa (1)
Aku punya temen. Temen kuliah. Dituakan sama seangkatan. Sifatnya penuh welas asih. Namanya Julius. Tapi karna aku ga rela namanya terdengar keren di kuping, aku mengkampungi namanya menjadi ijul. Julius=terdengar perkasa, jagoan tingkat dewa. Ijul= terdengar seperti bocah kampung berjambul hobi maen layangan dan mengidap penyakit pilek berkepanjangan, kata ijul mencerminkan si anak suka mengusap ingus menggunakan punggung tangannya, lalu lubang hidung diseret sampai ke lengan baju. Memanjang, mencetak ingus di sepanjang tangan.
Selain memanggilnya ijul, Aku juga panggil dia Opa. Aku suka salim tangan Opa.
Suka minta jajan juga ke Opa. Persis Opa kandung. Kebaikannya setingkat Santa. Tapi Opa ijul tidak gendut, beruban, dan bernenen.
Sebenernya kita seumuran. Tapi ada sejarahnya dia sampe dipanggil Opa.
Apa coba?
Ijul (sebelum dijuluki Opa) pernah mengalami penyakit amnesia. Seriusan, amnesia!
Sebelum mengenal ijul, aku pikir penyakit amnesia itu Cuma ada di sinetron-sinetron indonesia. Ke-amnesia-an ijul membuka sedikit jendela cakrawala pengetahuan umum-ku, kalau amnesia benar-benar penyakit yang bisa di alami manusia non-aktris. Manusia non-lebe. *baca: lebay.
*Waktu Ijul amnesia.
Aku rame-rame nengokin ijul ke rumahnya bareng anak-anak lenskep. Aku pake baju biru muda.
Ngeliat muka ijul aku iba,
Aku langsung dadah ke ijul "Hai!". Senyum sedih.
Ijul bengong
"ijul, inget aku ga?"
"inget"
"aku siapa?"
"gita"
Aku jerit girang! Ijul inget aku! Padahal dia amnesia! Dia inget aku!
Terus mama ijul dateng, gantian mama ijul yang nanya,
"ijul, gita yang mana?"
Ijul diem. Terus geleng2 kepala.
Aku ga jadi girang. Aku jadi loyo.
Terus, temen-temen lain: Ed, Doli, Ondo, Huda, Iki,jadi terpancing. Pengen ngetest ijul.
Doli: "Jul, gue siapa?"
Ed: "Kalo gw siapa?"
Huda: "Gue? Gue?"
Oh, ini terlalu bertubi-tubi. Ijul pusing. Ijul keringetan dingin. Mama ijul bilang ijul kalo kecapekan mikir jadi suka keringetan.
Ijul kasian. Dia bengong ngeliat aku. Aku dadahin ijul,"Hai!". Ijul ga bales hai.
Next. Ganti pertanyaan. Anak-anak masih penasaran pengen tau ijul amnesianya udah separah apa.
"Jul, lu tau persiden Indonesia?"
"Tau lah" Ijul bilang tau tapi mukanya linglung
"siapa?"
"SBY"
"Horeee!" anak2 girang. Kali ini ijul lulus test.
Terus mamanya ijul yang ikut nimbrung ikut ngetest,
"Ijul, SBY siapa?"
"ga tau" ijul jawab polos. Sepolos bayi.
Kita ga jadi hore.
Ijul ga ngerti apa yang sedang terjadi. Dia selalu bengong dan selalu noleh ke aku. Karna aku bingung mau ngapain jadi aku dadahin terus-terusan"Hai!"
Terus kepala aku ditoyor rame-rame dari kanan, kiri, depan, belakang.
"Hai hai hai aja luh!"
"Biar dia sadar tauk" *ganyambung
Kali aja dialog orgil ini bisa menyatukan kita, ijul. Tapi ternyata tidak. Ijul masih waras, Cuma amnesia. Ga boleh gitu.
Mungkin ijul butuh istirahat. Kepalanya ngucur keringet terus. Aku takut kaya di pilem-pilem yoko, ijul jadi habis sari-sari kekuatannya karna dihisap pertanyaan-pertanyaan melelahkan dari kita.
Kitorang pulang. Karna mau pulang, aku dadah lagi ke ijul.
***
Besoknya aku berpikir gimana cara supaya ijul selalu inget kita.
Aku beli note kecil, kalung tali, sama pulpen mini yang bisa di selipin kemana-mana.
Aku datengin rumah ijul, dianter iki.
Eh ijul katanya ke rumah sakit.
Aku datengin rumah sakitnya juga.
Abis ijul diperiksa dokter aku kalungin note kecilnya ke ijul. Aku buka notenya, aku kasih tau ijul, di note itu aku tempel foto2 kita, ada foto aku, iki, ed, doli, ondo, huda. Di atas foto orangnya aku bubuhin namanya, biar ijul baca tiap kali lupa. Tapi aku lupa nanya, ijul bisa baca ga.
Terus aku pulang. Berdoa. Semoga ijul besok sembuh. Amin.
-----------------------------------------------------Efek tigabulan di sumatra: Ih, lagi suka ngomong aku-akuan. Imut ga? Nyahahah
Komentar
Posting Komentar