Pada suatu hari, ada Bebe, bobo, bubu dan baba
Bebe, Bobo, Bubu, dan Baba adalah empat kakak beradik.
Bebe, si anak sulung hidup berdasarkan intuisi. Hobinya adalah lari. Lari dari kenyataan, tepatnya. Seumur hidupnya, ia sangat membenci suara tangisan anak kecil. Tidak ada hal yang lebih mengganggu dari apapun, kecuali suara lolongan, jeritan kesakitan, dan bentakan. Ya ya ya,,jiwanya sedikit terganggu karenanya. Lalu apa yang membuatnya kuat? Menutup mata. Dan ia sangat membenci dirinya sendiri, menemukan tegar itu tidak sama artinya dengan tidak peduli.
Bobo adalah anak kedua. Hobinya adalah tertawa,,ceria sekali bukan,,tapi lebih tepatnya - ia gemar menertawakan orang yang sedang menangis. Tak ada yang lebih membahagiakan baginya selain berbuat onar dan memaki sehingga membuat orang marah kesetanan. Dan ia akan tertawa lepas bersamaan dengan suara gelas pecah atau suara pintu yang dibanting dengan kasar. Ia seperti patogen yang piawai menggerogoti kesabaran mangsanya. Ia selalu tahu bagaimana cara membuat mangsanya gila dan frustasi.
Lain cerita dengan Bubu. Anak ketiga yang bertubuh tambun ini sangat sensitif dan pemarah. Hobinya adalah menjerit. Sentuhan ataupun gurauan sewaktu-waktu bisa berubah menjadi bom yang meledakkan emosinya. Ia lebih reaktif daripada bensin yang tersulut api, sangat labil dan tak terkontrol.
Baba? Ia adalah anak yang paling pendiam diantara yang lainnya. Bahasa yang ia tahu hanyalah perasaan. Ia selalu 'melihat dan merekam' yang ada di hadapannya - setiap hari. Apa yang terjadi apabila keempat kakak beradik ini tinggal di satu rumah? Baiklah ini yang akan kuberi tahu: Pertama, Bobo akan membuat bom (berupa makian, tamparan, dan bentuk-bentuk penyiksaan secara batin dan fisik) yang dilemparkan kepada Bubu. Lalu, tak dapat dihindari, Bubu akan menjadi sangat marah dan tak terkendali. Tetapi Bubu tak bisa melawan ataupun membela dirinya sendiri, sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah melolong histeris, menyalak, dan mengangis sedih meminta pertolongan. Semakin tinggi lengkingan tangisan Bubu, maka Bobo akan semakin tertawa keras dan puas. Sedangkan Bebe hanya berada di pojok ruangan dengan keringat dingin bercucuran, menutup telinganya rapat-rapat dengan mata terpejam, lalu ia akan merasakan mual yang amat sangat. Mual dan muak. Jantungnya berdegup keras karena menahan amarah. Tapi ia tidak tahu harus marah pada siapa. Dan Baba hanya berdiri kaku seraya "melihat dan merekam" tingkah ketiga kakaknya, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Mereka hanya tinggal bersama seorang perawat yang tuli, bisu, dan buta. Jelas ia tidak bisa menjadi perawat, tetapi mereka tetap menyebutnya perawat. Mereka semua mempunyai luka masing-masing, termasuk perawat itu. Luka itu ber-umur tua. Mereka semua kelelahan membalut luka mereka dengan perban masing-masing. Perban itu berwujud; berlari, tertawa, menangis, atau hanya diam.
Suatu hari, setelah terjadi kekacauan yang (lagi-lagi) tak terkandali, tepatnya tidak ada yang bisa mengendalikan, mereka saling terpaku dan tergugu. Kebingungan. Entah itu mencari naungan atau kekuatan, tapi bukan alasan. Sudah terlalu banyak alasan..dan tak satu pun dari alasan itu yang mengantarkan mereka kepada jawaban. Di persimpangan jalan, Bebe sekali melihat Bubu tersenyum samar setelah semalam ia menangis dan meraung. Senyuman samar itu membuat Bebe termenung lama. Jelas, ia dapat menangkap luka di sorot mata Bubu. Sama seperti luka di mata Bobo ketika ia tertawa lepas.
Bebe, Bobo, Bubu dan Baba adalah empat kakak beradik. Mereka tidak pernah bergandengan tapi mereka mempunyai luka yang sama.
4 orang itu ibarat perasaan.perawat itu kita.ya ga git? :D
BalasHapusntar tampil di rassa ya git,baca puisi/cerpen :D
actualy..this is story about my family. :D
BalasHapus