Memandang kanvas kosong

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang gadis. Gadis itu jenuh pada pekerjaannya yang cukup menguras tenaga. Maka, ia pun bertekad pergi ke negeri cina untuk mendapatkan kanvas dan kuas ajaib. Barang siapa yang mendapatkan kanvas dan kuas itu, niscaya ia bisa melukis apapun yang ia mau lalu lukisannya akan terwujud menjadi kenyataan.
Ternyata, tanpa disangka-sangka ada pangeran berkedok anak kecil yang ingin menemaninya. Tanpa pikir panjang, si gadis itu bersedia ditemani. Akhirnya mereka berdua pergi ke negeri cina bermil-mil jauhnya dengan mengendarai kuda hitam tua yang sering batuk-batukan.

Di perjalanan, mereka dihadang oleh badai, lalu mereka berteduh di kerajaan minyak milik sultan baba. Di kerajaan minyak, pangeran berwujud anak kecil itu kelelahan. Sepertinya ia sakit. "Gawat!", pikir gadis itu. Dengan was-was gadis itu memijat pundaknya,"sial, kenapa pundaknya lebar sekali", gadis itu memandangi pundak pangeran - lama. Pasti nyaman jika merebahkan kepala disini, pikirnya.

Badai pun berlalu, dan mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi tidak lama, si pangeran bertubuh anak kecil kembali sakit. "baiklah, mari kita beristirahat dan mengisi perbekalan sejenak," sahut si gadis. Mereka pun berhenti di rumah makan asing dan menghabiskan 1 piring semacam spaghetti berwarna merah yang rasanya tak karuan dan berhasil membuat tenggorokan terasa panas. Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan kembali.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan berhasil menerjang badai ganas, akhirnya mereka sampai ke kerajaan cina. Mereka mendatangi perkampungan pecinan yang sedikit kumuh demi mencari kanvas dan kuas ajaib itu. "Aneh, tak ada penyihir atau pun naga api yang menjaga barang ajaib ini," seru sang gadis. Mereka pun mendapatkan benda-benda ajaib itu dengan mudahnya.

Tapi ketika mereka hendak pulang, badai ganas itu kembali muncul. Mereka memutuskan untuk berteduh dan bersandar di jeruji-jeruji besi khas pecinan. Lama-kelamaan, badai itu melembut dan berubah menjadi hujan berirama. Sang gadis dan pangeran termenung menikmati "rain watching". Kerajaan cina pun makin sepi seiring datangnya senja. 'Langit kelabu-suasana pecinan-jeruji jeruji besi', desah sang gadis. Terjadilah percakapan antara pangeran dan sang gadis. Pangeran itu bercerita bahwa tak lama lagi di kerajaannya akan terjadi pergantian takhta. Well, walaupun pangeran ini bertubuh kecil, namun ia memiliki harapan yang besar untuk kerajaannya yang baru. Sang gadis hanya termanggut-manggut, sesekali berdecak kagum  melihat kilatan api di mata pangeran. Kilatan itu membuat si gadis melupakan kejenuhannya dan kembali bersemangat.

Setelah badai mereda, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Yeah,,tapi lagi2 badai itu kembali turun. Huff...badai itu seenaknya saja bisa datang dan pergi.. pikir si gadis. Tak jauh, mereka melihat gedung opera yang kokoh. "Tempat yang bagus untuk berteduh", kata pangeran. Mereka pun berteduh sesekali menikmati pertunjukkan opera yang tengah berlangsung. Di gedung itu. Tubuh si gadis menggigil kedinginan. Pakaiannya basah kuyup akibat badai tadi. Sang pangeran memberikan mantelnya kepada si gadis sampai akhirnya si gadis merasa hangat.

"Aku lapar", ujar pangeran tiba-tiba. "baiklah aku akan menemanimu makan", ujar si gadis. Mereka pun menuju kedai kecil di ujung jalan. Sang gadis hanya memandang pangeran yang lahap menghabisi makanannya. Lalu tiba-tiba gadis itu bertanya,"apakah kau pernah berpikiran untuk mempunyai teman kencan?". Pangeran itu menjawab,"ya, aku butuh teman kencan, tapi masih banyak pekerjaan di istana yang harus kuselesaikan. Kau tahu, masih banyak yang harus aku urusi daripada sekedar memikirkan teman kencan."
"ya, kau benar".
" Ada apa? Kau ingin memiliki teman kencan?" tanya pangeran.
"ya, aku jenuh menyendiri". Jawab si gadis dengan pandangan menerawang. Ternyata hanya sekedar memandangi hujan dengan seseorang itu bisa menjadi hal yang menyenangkan, pikirnya.
"apakah kau masih mengenaliku?" tanya pangeran.
"tidak, bahkan aku tidak mengerti arti sorot matamu, aku tidak bisa mengenalimu dari balik pundakmu yang lebar itu." jawab sang gadis.
Hening. Saat itu sang gadis dapat melihat sosok pangeran yang asli dibalik matanya yang berkaca-kaca. Lalu pangeran itu berubah wujud, ia bukan lagi pangeran yang terkungkung di tubuh anak kecil. Dia terlihat dewasa. Tiba-tiba, gadis itu merasa telah mengenal lama pangeran yang berada di hadapannya itu. Gadis itu kebingungan melihat sorot mata pangeran yang berkaca-kaca. Apakah aku menyentuh hatinya? Si gadis bertanya-tanya dalam hati.
"Apakah kau sedang bersedih?" tanya sang gadis.
"ya"  jawab pangeran,"
"kenapa kau bersedih?" tanya si gadis
"kehilangan, mungkin..". Jawabnya dengan helaan nafas.
"aku juga sedih. Tahu kah kau apa yang membuatku bersedih?" Tanya gadis itu dengan mata menengadah memandangi pangeran yang tingginya kira2 10 inchi melebihi tinggi gadis itu.
"aku sedih karena semua orang disekitarku berubah, menjadi sosok yang tidak ku kenal. Sekarang aku merasa sendirian dan kosong."
Lalu mereka pun pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, gadis itu kembali menatap pundak pangeran yang lebar. "Tahu kah kau? aku selalu iri jika melihat gadis yang membenamkan kepalanya di balik punggung pasangannya, dan inilah yang akan aku lakukan sekarang!",lalu sang gadis membenamkan kepalanya di pundak sang pangeran, lalu terlelap.


Keesokan harinya, si gadis merasakan kelegaan. Entah apa yang membuatnya lega dan damai. Ia menceritakan peristiwa kemarin semua dengan menggebu-gebu kepada sahabatnya, sang kelinci hitam. Si kelinci pun mendengar cerita itu dengan antusias, seperti biasa. Si gadis berbicara tanpa henti seraya memandangi kanvas kosong.
"apa yang akan kau lakukan dengan kanvas itu?" tanya si kelinci.
"tidak ada". Jawab si gadis. "aku hanya ingin memandanginya ketika dalam keadaan kosong, karena alam imajinasiku akan menculikku dari kehidupan nyata ini. Itu lebih berguna daripada aku melukis hal yang akan menjadi kenyataan. Kau tahu kan kelinci, aku pasti akan melukiskan pria baik hati yang akan menemaniku sampai akhir hayat kaena memang itu yang aku inginkan dan TING! Hal itu akan menjadi kenyataan, sedangkan mana ada pria yang 'bergaransi selama-lamanya', mereka pasti akan pergi dengan gadis lain, atau berubah menjadi sosok yang tidak aku kenal, dan itu akan menimbulkan luka baru. Aku memutuskan untuk membuat tren baru kalau wanita tidak membutuhkan pria dan hidup sendiri. Lalu jika di usia tua aku merasa kesepian, aku akan mengadopsi anak Asia yang sopan dan berkelaluan baik seperti Midori. Aku akan berkeliling dunia mendengarkan ia bermain musik, bertepuk tangan, dan makan apa saja yang terhidang dihadapanku. Aku akan jadi nenek2 gembrot dan mengenakan muumuus sutra. Bahagia sekali."
"kau benar, sepertinya kau sudah diculik oleh alam imajinasi mu sendiri." si kelinci mencibir.
Si gadis masih memandangi kanvas kosongnya.
"lalu bagaimana dengan pangeran itu?" tanya si kelinci penasaran.
"lupakanlah, sepertinya ia benci kepadaku karena aku tidak tahu diri dan tidak menghargainya. Buktinya aku tidak mengucapkan terima kasih ketika ia memberiku mantelnya, atau membungkukkan badanku karena kemarin ia telah menemaniku mencari kanvas ajaib ini." Jawab si gadis. Lagipula aku takut jika ia kembali ke wujud anak kecilnya lagi dimana aku tidak dapat mengenalinya lagi, pikirnya.
Tiba-tiba terdengar suara kasak-kusuk di antara semak-semak dan pohon ebony yang tak jauh dari tempat si gadis berbincang-bincang dengan kelinci. "suara apa itu?" seraya si gadis memeriksa ke balik semak2. Si gadis sontak terkejut, tak mengangka ternyata disana berdiri lah sang pangeran. Pangeran itu berkata,"aku mendengar semuanya". Si gadis merasa badannya membeku dan kaku seraya memandangi pangeran berbalik dan pergi meninggalkannya - dengan tubuh anak kecilnya.

Tiba-tiba perasaan lega tadi berubah menjadi perasaan putus asa. Si gadis tersadar, kelegaan itu berasal dari sosok pangeran dewasa. Dan kini, semuanya telah berubah. Pangeran itu kembali ke sosok tubuh munginya. Ia tidak memiliki siapa-siapa yang ia kenal. Perasaan kosong pun kembali menyergap.

"Well, mungkin aku akan menikah denganmu," ujarnya kepada kelinci - seraya memandang kanvas kosong.


19.12.09

Komentar

Postingan populer dari blog ini

shitty day

Apa itu bahagia?

Kenapa Menulis??