Hopes in new folder

Gw pernah mencoba membuat suatu cerita tentang petualangan  anak manusia. Gw namakan judul cerita itu "new folder". Bahkan saking niatnya, gw mencoba menulis roman itu di sebuah buku khusus nan tebal yang gw beli di kota bertuah. Buku itu terdiri dari lembaran kertas polos, kayak sketch book gitu,,niatnya selain cerita, mau gw ilustrasiin pake gambar atau segala sesuatu yang bisa gw tempel disitu yang bisa mendukung alur cerita. Gw lebih suka menyebutnya notebook karna isi/konten cerita itu penting. Notebook itu tebel bgt, karena gw berharap cerita itu jadinya bakal panjang dan gw pernah kehabisan ide buat melanjutkan jalan cerita itu. Oia, cover notebook itu berwarna ungu dan bertuliskan 1 kata, yaitu; "HOPE". Haha,,dangdut!. Pokonya gw udah MATENG dan NIAT abis bikin itu cerita.

Cerita petualangan diawali dengan betapa menyenangkannya berjalan diatas jembatan melewati sungai deras bagai ditepuktangani oleh riak sungai yang bergemuruh. Dan sejagat alam pun seperti menyoraki dan mendukung.

Hari2 pun berlalu dan gw selalu berbinar2 ketika menatap notebook tebel itu. Si notebook pun setia menemani tidur gw, dan tergeletak di ujung kasur sampai pagi harinya kadang gw temuin tu notebook udah jatoh ke kolong kasur ketendang2 kaki/tangan gw yang motah.

Tetapi hingga pada suatu hari,,gw menyadari kalau GW MATI GAYA! Ide gw mandek. Semua imajenasi gw mulai meredup. Dan padam.
Gw gak tau lagi mau nulis petualangan apa,,kayak udah abis semua petualangan di muka bumi. Akhirnya, gw tutup tu buku dengan langsung menuliskan ending ceritanya saja.

Begini endingnya;
Sungai itu mengering. Sekelilingnya habis terbakar tak bersisa, tidak ada satu pun yang tertinggal untuk bisa dibangun kembali. Tidak ada lagi suara gemuruh tepuk tangan.  Burung2 pun menyanyikan nada elegi. Seolah2 sejagat alam pun menentangnya.
Kini hanya sepi, lalu mati ditikam kekosongan.  Terduduk dan tertunduk. Tak kuasa menahan, isak tangis pun pecah. Meradang. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit. Sedu sedan begitu hebatnya sampai membuat nafasnya tersenggal-senggal.  Burai air mata mengalir derasnya membasahi pipinya. Sakit. Cuma sakit yang dia rasakan. Ingin sekali berteriak, marah, dan menumpahkan segala yang ia rasa, ingin berteriak kepada dunia bahwa dirinya sakit, tapi semua itu percuma karena sangat sulit untuk membuat seseorang saja mengerti apa yang ia rasa. Dan pada akhirnya, cukup ia sendiri yang merasakan siksaan sakit yang bersarang di dadanya. Kesedihan, kesendirian, dan kekecewaan memperhebat rasa sakit itu. Ia hanya ingin menangis dan menangis,,
Rasa sakit itu perlahan menjalar menyesakkan dadanya dan berakhir membuat kepalanya pening. Obat2an tidak berguna itu dibuangnya. Karna hanya bisa membuatnya terlelap dan melupakan sejenak. Bukan itu yang dia butuhkan.
Begitu sedihnya. Ia menangis karena mengasihani dirinya sendiri. Cemburu kepada dirinya sendiri.
Begitu sedihnya, ia tidak bisa menghentikan air matanya.
Begitu sedihnya ia tak bisa berkata apa-apa lagi.
Begitu sedihnya, tangisan seperti itu hanya terjadi 2 kali di dalam hidupnya, ketika ia ditinggal mati sanaknya.
Begitu sedihnya, melepaskan.
Melepaskan satu per satu benang yang mengkaitkan dirinya dengan new folder; suatu tempat rahasia, tak bernama.

Dulunya, sebelum menjadi new folder, tempat itu hanyalah rawa yang berganggang biru, lalu ditepi rawa perlahan namun pasti, tumbuhlah pohon beringin yang kokoh. Kehadiran pohon penaung itu mengubah rawa menjadi surga kecil. Akarnya yang dalam perlahan menyedot air rawa biru menjadi terkuras dan mengering. Dasar rawa biru itu berubah menjadi daratan yang dihampari rumput berwarna jingga. Ia banyak menghabiskan waktunya di bawah pohon beringin itu,,Pohon beringin berkubah itu melindunginya dari terik dan hujan. Banyak hal yang ia lakukan bersama pohon beringin itu, entah bersandar, menulis puisi2 di daunnya, tidur di pangkuan akarnya, bermain ayunan, bahkan memanjatinya. Sering kali ia hanya duduk terpaku, menengadah ke atas, mencoba mengartikan bisikan2 daun yang diterpa angin, mengartikan dan merangkai nada2 dari daun yang berguguran. Mencoba mengerti, walau mereka menggunakan bahasa yang berbeda.

Perlahan, tempat itu menjadi kaya dan luas, mulai dari dragonfly2 tolol yang mencoba membuat lelucon, desiran ombak dipantai, bisikan kota tua, cakrawala di balik bukit pelangi, sampai hamparan bunga2 rumput dandelion, bunga liar, yang tidak wangi, tidak cantik tapi putih bersih dan begitu bebas terbang bersama angin..

Lalu, begitu cepatnya, New folder bagai suatu tempat yang selalu bergema 'disini,,disini' berubah menjadi old folder seketika, menyadarkan disitu sudah tidak ada apa-apa lagi. Kosong.
Begitu cepatnya berubah…"

*****

Weleh2,,ternyata judul notebook sama isi ceritanya gak nyumbang zakat dan n.g.a.w.u.r! Mav!
Kata ade gw yang baru kelas 5 sd abis baca cerita bikinan gw, di ketawa terbahak2. Katanya cerita bikinan gw lucu dan mending gak usah diterusin. *apah?! lucu dari mana??!*. Gw tersinggung.
Trus, tadi malem, dibawah terangnya bulan sabit, gw curhat ke ade gw yang baru berumur 1 taun. Gw cerita sedih, dia malah ketawa2 sambil nunjuk2 cicak. Pas giliran gw ikut ketawa nanggepin ketawaannya dia, dia malah diem, trus mukanya berubah jadi betek, seolah2 ngatain gw,"lu kaya anak kecil deh, masa cicak diketawain?!". Gw diem, di nyabok pipi gw dengan tangannya yang bau abis makan bubur milna, Gw mau balik cabok, eh emak gw tiba2 muncul dengan suara mengaum. Syalalalala. 


23.11.09

Komentar

  1. gitaaa... gw tadi udah ngetik komen panjaaaang.. nggak bisa di pos kan.. T T..
    malangnya nasib gw..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

shitty day

Apa itu bahagia?

Kenapa Menulis??