Kisah si Katak Betina #6

Katak betina lupa ingatan. Mungkin sudah setahun lamanya ia tidak menyentuh jurnal kehidupan.


Si katak betina seringkali kehilangan arah. Kadang ia gila, kadang ia lupa cara berpakaian trendy, kadang ia yakin ia bisa menyelesaikan segala yang diucapkannya seperti seorang laki-laki, tapi  kadang (malah seringnya) ia merasa terlahir sebagai pecundang, terus meratap tanpa menyelesaikan apapun. Apakah katak membutuhkan manager yang selalu menemani ia kemanapun pergi dengan papan wasit dan segulung daftar ceklis? Oh, kadang hidup terasa seperti sumber petaka, sama seperti ketika kau berada di dalam game dan kau tidak bisa menemukan jalan keluar untuk menuju ke level berikutnya-level yang lebih tinggi. Itu pasti karena ada misi yang belum kau selesaikan, bukan?


Dan disinilah..si katak betina mengutuk habis kolam dan treadmillnya. Selama ini ia seolah berlari diatas treadmill. Betapa lelahnya toh ia masih di titik itu. Dan kolam - Ia sangat bosan tinggal di kolam yang itu-itu saja. Ia takut. Ia ketakutan terlalu lama berada di zona aman. Ia tahu kehidupan tidak selamanya baik. "Life can slip away in a matter of seconds", begitu kata si peri baik dari Amerika.


Entah dosa terbesar apa yang melekat dalam hayatnya. Setelah habis menonton spongbob di sore hari, ia membayangkan dirinya sama seperti pattrick yang tinggal di bawah batu sepanjang waktu dan tidak pernah melakukan apa-apa. Bahkan dalam episode "Big Pink Loser", dia mendapatkan penghargaan untuk tidak melakukan apa-apa paling lama. Tidaaaaaak!


Dan lagi-lagi Teori Maslow pun bergeming, berputar-putar di sudut pikirnya. Penghargaan, Pencapaian, Blablablablablablabla....


Kembali ke kolam.
Dulu ia merasa oke-oke saja menghabiskan waktunya disini, seperti bercengkrama dengan angsa betina, bergosip dengan kunang-kunang yang menemaninya di setiap malam, membicarakan si belalang sembah dengan tungkai panjangnya yang kurus dan membuat iri. Huh jangankan tungkai panjang, leherpun aku tak punya, itulah yang katak beberkan setiap kali si kunang memulai gosipnya, hadir di perguruan sigung yang mengajarinya menjadi sosok tidak normal-dan bau, menyusun strategi licik dengan serigala putih, berpetualang dengan anak kancil, membantu kura-kura  menyebrangi jalan, menyusun daftar makian untuk buaya darat, menyanyi bintang kejora dengan kelelawar tapi tikus, apa deh? semuanya ia nikmati. Dan semuanya cukup.


Tapi benar. ini lah fasenya. Sebentar lagi musim kawin tiba, para burung sudah melandas menuju utara, lalu kera dan babi pun ikut-ikutan pergi ke barat mencari kitab suci. Dan semua orang, maksudnya semua binatang, sibuk mempersiapkan itu!
Dan disinilah..si katak betina kembali mengutuk habis kolam dan treadmillnya sambil memandangi punggung2 mereka yang berpergian satu per satu.


Entah apa yang harus dilakukannya. Ia terus berdoa bahwa dirinya tidak ditakdirkan sebagai groupie tolol yang menumpang, bukan menyetir. Ya Tuhan, izinkan aku menyetir.


si katak berdiam diri dengan alasan mencari sesuatu padahal seharian ia hanya duduk dipojokan dengan buku terbuka dipangkuannya. Kalau sedang galau, ia pun membuka buku dan berbicara pada sebatang pensil yang kemudian mentranslate menjadi simbol-simbol dan masih bersyukur karena tidak dilahirkan pada zaman nirlekha.

Lagi-lagi membaca buku. Hari raya, hari ulang tahun, liburan sekolahpun dihabiskannya dengan membaca buku. Awalnya menghibur, tapi lama-kelamaan ia sadar itu tidak keren. Seharusnya ia bisa mentrenslet semua yang dibacanya menjadi 'sesuatu' yang produktif, bukan kegiatan yang sebatas pada konsumerism, bukan pada kegiatan menghayal tak berbekas akibat sihiran buku2 tidak bertanggung jawab.
Oke harta habis, rak-rak ambruk kelebihan daya dukungnya, buku-buku bisu, kamar berantakan, mata merah, dengan sedikit sinar yang menerobos pada jendela kusam, persis seperti ilmuwan gagal dengan segala penemuan yang tidak berguna.


Tapi si katak merasa ia harus melakukan sesuatu untuk hidupnya. Ia tahu ia mempunyai segudang mimpi yang kalau kalau tidak segera dipenuhi akan berubah menjadi bergentong-gentong dinamit yang akan meledak kapanpun. Oh, dinamit itu tidak baik untuk keamanan dan kenyamanan.


Dalam hidupnya, si katak betina sering kali kehilangan arah. Ia merasa, selama ini dia mengambil keputusan apa-pun sendirian. Ia tidak pernah bertanya bahkan kepada ...penasihat. Penasihat biasanya adalah makhluk yang diutus Tuhan untuk menasihatimu dan tempat kau bertanya. Mereka hebat karena dulunya mereka membuat kesalahan lebih banyak daripada kita. Setiap kali si katak bertemu penasihat, bukannya ia menghambur dan memberitahu mereka keadaan yang sebenarnya, alih-alih ia tampak kuat dipermukaan dan yakin bahwa ia bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Karena terlalu lama keadaan itu berlangsung, rasanya si penasihat menjeda bermil-mil jauhnya.
Si katak seperti tumbuh sendirian.
Ketika ia merasa sangat bingung, dan tidak tahu apa yang harus ia pilih, ia hanya berdiam, lagi-lagi dengan buku di pangkuan dan sebatang pensil, ia terus meracau.
Kadang berbicara pada diri sendiri itu dapat mengungkap sesuatu. Dan ya, sekarang ia menemukan sesuatu.


Setelah Si katak betina sadar bahwa cermin di dalam ruangnya sekarang tidak lain adalah pendusta. Si cermin memantulkan bayangan yang bukan dirinya, dan ketika pulang ke rumah katak mendapati tubuhnya 3x lebih melar daripada bayangan cermin dustanya itu. Ia tidak mau lagi percaya pada cermin manapun. Dan ia mengambil keputusan untuk: tidak fokus pada dirinya saja: karena memikirkan diri sendiri hanya akan membuat kecewa dan lelah.
Kesimpulannya adalah, mungkin ia harus lebih sering pulang dan mendapatkan kenyataan bahwa tubuhnya 3x lebih melar dan lebih sering memperhatikan orang lain, yaitu anak bau pipis dan penasihat beruban. Cara. Ia harus menemukan cara untuk membuat mereka bahagia.


Apa deh katak? "mengapa aku tidak dilahirkan sebagai semut atau lebah saja? rata-rata mereka serius dan berhasil. Oh, sial, aku butuh film Holywood!" rintihnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

shitty day

Apa itu bahagia?

Kenapa Menulis??