jedarrr

Bagaimana jika kita mulai lagi seperti biasanya. Seperti berangkat pukul 8 pagi dengan pipi penuh oksigen, duduk berdesak2an di angkutan umum sambil membaca novel, jalan kaki selama 15 menit, menghirup udara pagi dan bersyukur ,mendengus kesal selama perjalanan digodain tukang becak, daaan girang banget sekali karna akhirnya sampai juga di depan pagar kantor.
lalu mengumpat kenop pintu sialan yang susah dibuka, berkata :selamat pagiii keras2, berlenggok untuk menyeduh kopi, duduk manis di depan komputer, "melihat2 berita dunia maya", baru memulai pekerjaan dengan santai sambil ym-an dengan para staff yang jaraknya kurang dari 1 meter, buka-buka file CAD, SKP, PDF, PPT dan JPG sambil berusaha mencerna, sok-sok nanya ke senior hal-hal yg ga bisa kecerna, mempelajari proyek-proyek lalu dengan size file yg bergiga-giga, makan siang di depan komputer sambil "melihat2 berita dunia maya", liat2 CAD lagi, membaca buku2 berbobot pukul 4 sore, makan kudapan sepuasnya, berpamitan selepas magrib, pulang tanpa beban, dan tertidur dengan pulas...begitu seterusnya sampai penghujung minggu menjemput, bertemu orangtua di rumah.

siklus yang indah.

suka banget.

sampai pada suatu hari..
siklus itu tiba-tiba ter-pending. Berevolusi menjadi sesuatu yang agak kacau.

semenjak itu, pipi yang penuh oksigen berubah seketika menjadi berliter-liter adrenalin yg menginduksi rasa mual karna cemas. Keringat semangat dipagi hari berubah menjadi keringat dingin
bukan takut, tapi bingung. dan terus berdegup kencang. Mungkin itu semua semacam respon yang tidak bisa dicegah seperti halnya otot lurik tidak mau patuh terhadap perintah sadarku.

Bisakah kita memulai lagi dengan menyeduh kopi di pagi hari sambil "melihat2 berita dunia maya"? tanpa ada gelisah, tanpa ada kaget berlebih ketika si telepon selular berdering ricuh, tanpa ada perut mual setiap harinya, tanpa ada keringat dingin, tanpa ada bayang2 senyuman ayah karna itu membuatku semakin gugup.

Oke, kita ganti saja siklus itu dengan:
bangun di subuh hari, berdoa dan membaca ayat-ayatnya yang konon bisa membuat hati manusia tenang. Setidaknya itu bisa mengalihkan perhatianku - walau sejenak, dan setelahnya aku belum punya rencana.

baiklah, bisa jadi tidak seburuk itu. setidaknya aku pernah merasakan siklus menyenangkan itu.

Oh persetan, hidup ini tidak melulu skripshit kan? masih banyak HAL! Aku hanya perlu menjauhi diriku, menanggalkan subjektivitasku dan melihat dengan sudut pandang yg lebih lebar. Sambil berlalu. mungkin banyak hal lain yang bisa dikerjakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

shitty day

Apa itu bahagia?

Kenapa Menulis??