The other side of pinokio

Boneka kayu yang malang. Boneka kayu itu dicampakkan. Tak diperhatikan. Ia memiliki seorang Tuan yang selalu menatapnya dengan pandangan kosong, seolah-olah si boneka kayu adalah benda transparan yang tembus pandang. Tuannya sangat dingin - dan sangat tidak peduli kepadanya. Berbagai cara ia gunakan untuk mencuri perhatian tuannya, mulai dari membawa pulang sebuah medali karena kehebatannya - sampai tidak melakukan apapun. Well, si tuan sama sekali tak bergeming - apapun yang ia lakukan. Sang tuan hanya memandang dengan tatapan kosong. Kadang boneka kayu menerka-nerka, apa yang sedang dipikirkan tuannya? Apakah ia kesepian? Apakah ia sedang bersedih? Apakah ia kelelahan memiliki boneka kayu sepertinya?
Bahkan pernah pada suatu hari, si boneka kayu terkapar lemah tak berdaya di kamarnya. Si tuan tak kunjung datang, bahkan hanya untuk meletakkan telapak tangan di keningnya. Sepertinya itu harapan yang berlebihan. Dimanakah sang tuan? Well, Ia berada persis di sebelah ruangan dimana boneka kayu terkapar. Setelah 2 hari menggigil kedinginan dan hampir mati rasanya, sang tuan baru membawanya ke sebuah gedung putih yang dipenuhi bau alkohol dan obat-obatan, lalu meninggalkan si boneka kayu malang selama 5 hari disana - sendirian. Bukan hal yang mudah, namun tidak susah juga, ketika berada di ambang kritis, maupun kehilangan kesadaran tanpa ditemani seorang Tuan. Tidak, si boneka kayu tidak membenci tuannya sama sekali. Sekarang ia mengerti: Tidak usah mencari perhatian. Tidak usah peduli. 
 
Kini si boneka kayu amat menikmati ketidakpedulian tuannya. Ia jarang pulang, karena tak ada yang menyuruhnya pulang, ia tak peduli lagi dengan medali-medalinya, singkatnya si boneka kayu telah menemukan dunianya - dunia ketidakpedulian - dan bahagia di dalamnya. 
Hari demi hari berlalu, kini si boneka kayu tumbuh menjadi boneka yang bebas, merdeka, dan tidak peduli. Ia bebas pergi kemanapun ia mau, ia bebas pulang kapanpun ia mau, ia bebas berteriak dengan bahasa rimbanya, ia bebas tertawa terbahak-bahak tanpa harus menutup mulutnya, ia bebas.

 
Hingga pada suatu hari, si boneka kayu menyadari bahwa tuannya telah berubah. Ia bukan lagi tuan bermata kosong. Kini sang tuan SANGAT peduli kepadanya. Sang tuan tiba-tiba terobsesi menjadi sutradara. Sang tuan memberinya tali-temali transparan dan mengaitkannya ke pergelangan tangan dan kaki si boneka kayu, sehingga ia bisa mengatur gerak-gerik si boneka kayu sesuai dengan keinginannya. Oh tapi tunggu dulu, sang tuan merasa ada yang kurang, maka ia mengaitkan lagi satu tali ke lehernya. Si boneka kayu kebingungan - ya hidupnya memang penuh hal-hal yang membingungkan, apa yang terjadi dengan sang tuan? Sempat terbesit di hatinya yang terbuat dari kayu, kalau-kalau ia takut kebebasannya dirampas oleh tuannya sendiri yang mengajarkannya hidup bebas oleh ketidakpedulian.

 
Ternyata ketakutannya selama ini menjadi kenyataan. Bukan hal yang mudah hidup dalam jeratan tali doktrin. Sama sekali bukan hal yang membahagiakan memiliki hidup sempit yang disekat oleh tembok-tembok dogma. Sang tuan kini mengatur segalanya, mulai dari buku-buku yang harus ia baca sampai pakaian yang harus ia kenakan, si boneka kayu tidak bisa hidup tenang dengan koleksi jins belelnya, si boneka kayu tidak boleh menggunakan matanya untuk hal-hal yang ia suka, entah itu hanya sekedar menonton film atau menatap dirinya di cermin dengan mengenakan jins belelnya. Ia tak lagi diperbolehkan pulang melebihi petang. Ia tidak boleh berteman dengan lawan jenis. Ia tidak dibiarkan jatuh cinta sebelum waktunya. Namun semua itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan, ia tidak boleh pergi kemanapun yang ia mau. Perhatian tuannya yang berlebihan itu malah membuat ia merasa semakin sendirian dan kosong.

 
Boneka kayu mulai gila. Hidupnya terasa seperti dijungkirbalikkan. Ia seperti seonggok kayu tak bernyawa. Ia menginginkan kebebasan, ia ingin kembali lagi ke dunianya yang dulu. Awalnya ia hanya menangis sampai kepalanya terasa sakit. Lama-lama ia menemukan cara untuk membebaskan dirinya. Ia mengurung diri di kamarnya. Satu-satunya tempat yang tersisa. Untuk bersembunyi. Bertemankan bayangan di pantulan cermin, memegangi cutter, menyayati rambutnya dengan kasar, hingga tak berbentuk, menyumpal telinganya dengan musik satanic yang hingar bingar hingga pekak, memuntahkan segala isi perutnya di kamar mandi, berbaring memandangi asap yang melayang-layang di udara. Semua itu ia lakukan hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri: ia masih bebas melakukan apa pun. Walau hanya sebatas kamar. Dan, ya, ia merasa bebas.


Di dalam kamar ini
Ku bersembunyi lagi
Mereka yang kita sayangi
Yang paling mampu melukai

Di sini, ku bebas mewarnai
Dan biru, untuk rumput itu
Dan hijau, untuk langit itu
Apa saja, di tempat itu


Tidak, boneka kayu tidak benci kepada tuannya. Bahkan ia sama sekali tidak sanggup menyalak ataupun melawan. Ia takut menyakiti hati tuannya. Tapi maaf, si boneka kayu tidak punya pilihan kecuali tidak peduli. Persetan dengan tali temali yang membelit sekujur tubuhnya.

Komentar

  1. Git,
    well I actually dont know what to say..
    cerita pinokio ini mengingatkan gw sama idup gw sendiri..tapi gak se-ekstrim itu c,
    dan gw gak kunjung menemukan dunia bebas dan ketidakpedulian itu..gmn dunk?
    gw masih terombang-ambing di tengah kebingungan yg membuat gw jadi serba salah..
    what do you say git?

    BalasHapus
  2. find your self, then u'll find your world ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

shitty day

Apa itu bahagia?

Kenapa Menulis??