Petualangan manusia pendek akal: Kemping (2)

BESOKNYA

Grasak grusuk. Bangun tidur. Kebelet pipis.
*Guncang-guncang badan Ed. "Ed, bangun ed, cari kamar mandi yok, pipis". Ed stuju,"sama, gw juga kebelet boker". Kucek-kucek mata, nguap-nguap dikit. Keluar tenda. Pake sepatu. Cari kamar mandi. Jalan dikit. Nemu!

"Siapa dulu?"."Gw dulu ya, kan Cuma pipis"."Iya".
Beres pipis. Aku nungguin Ed yang gantian ke kamar mandi. Lama.
Beberapa saat kemudian.*ceklek. Pintu kamar mandi kebuka. Ed jinjing sepatunya di tangan kiri.
"Lho? Ngapain buka sepatu?".
"Eek"
"Emang kalo mau ee harus lepas sepatu?"
"Iya, lepas celana juga" #ups
Muka Ed memerah.

"HHAAAHAHAHAHA". Aku ngakak. Ngakak sampe sesegukan. "Ih, lu kayak dede-dede deh, ee doang pake lepas celana segala..ahahahahah". Ketawa lagi. "Eh, jangan-jangan , pipis doang juga lepas celana? Pantes lu ga pernah pipis sembarangan. Pasti tiap mau pipis pulang ke kostan!". Ketawa sampe jongkok-jongkok. Ga kuat.
Ed ikutan ngakak juga akhirnya. Tapi mukanya masih merah.
:D
--------------------------------------------------------------------------------

Laper. Kita punya Indomi. Cuma itu harta yang kita punya, buat sarapan.
Leni nyalain kayu bakar. Tapi kok asepnya lebay. Ngepul. Bikin panci kecilnya terlihat menghilang.

"Nah lho, makan pake apa?"." Lu bawa piring ga?"." Engga"."Mangkok , mangkok?"."Ga"." Bawa sendok ?"." Engga".
Kami saling pandang tanpa bicara.
HAHAHAHA. Lagi-lagi ketawa. Ngetawain kegoblokan bersama.
Akhirnya, kita cuci tangan. Makan indomi pake tangan. Langsung dari pancinya. Panas-panas. Rame-rame. Satu panci kecil dikeroyok enam tangan.

Rebut sana. Rebut sini. Keplak tangan temen. Serobot tangan temen. Hahaha. Hihihi.

Lagi-lagi makan sambil ngobrol. Ketawa-ketawa ngebayangin yang engga-engga.
"Ed, enak ya lo, kalo makan mie ga ribet"
"Kenapa gitu?"
"Iya, kan gigi depan lu jarang gitu. Ada celahnya. Jadi lu ngisepnya gampang. Tinggal colok mie-nya ke celah gigi. Terus sedot. Srooooot!"
"HAHAHAHAHA"
"Eh, eh, gimana ya kalo manusia itu memang diciptain Tuhan dengan lobang bulet gitu di gigi depannya? Khusus buat nyedot mie."
"HAHAHAHAHA"
"Penting banget!"
"AHAHAHAHAHA"

 Mie-nya rasa asep. Gara-gara kebanyakan ketawa mie-nya dingin. Enek. Ga habis. Tapi kenyang.

Abis mamam kita siap-siap. Mau tracking! Kita mau tracking ke air terjun. Kata Ijul dan Iqi disini ada curug (air terjun, dalam bahasa sunda). Katanya curugnya gede. Seru!

Terus kita mulai tracking. Foto-foto dulu. Terus jalan.
"Kita cari suara air"
*pasang telinga tajem-tajem.
"Oh, oh disana kedengeran suara air"
"Ayok kesana-kesana!"

Jalan lagi. Kanan-kiri pohon pinus, cemara.  1 jam. 2 Jam. Lama-lama track-nya jadi mencurigakan. Kanan-kiri semak belukar. Berduri. Tertutup. Seperti jalan yang belum pernah dijamah manusia.

"Bener ga sih lewat sini?"
"Bener, bener..udah jalan aja"

Jalan lagi. Tepis-tepis semak. Jalan lagi.

Lama.

"Beneran lewat sini?"
"Kayaknya…."

Kita semua berenti jalan.
Liat kanan kiri. Atas bawah.
"Oh, itu ada turunan. Turun kali ya!"

Okey. Kayaknya kita harus susur sungai. Gulung celana. Gulung lengan baju. Lepas sepatu.
"Eh, eh, nih sepatunya taruh di sela-sela batu aja. Kita nyeker."
Kita lempar-lemparin sendal, sepatu ke sela-sela batu besar. Ups. Terlalu semangat. Terlalu bertenaga. Sepatunya jeblos terlalu dalem. Jauh. Susah diambilnya lagi.

Ah, biarin. Pulangnya aja dipikirin lagi.
Kita lanjut.

Jalan lagi. Sekarang medannya batu-batuan. Besar-besar. Tergenang arus. Tantangan. Seru!

"Jalannya pelan-pelan"

Hap. Hap. Kayak di benteng takeshi, kita lompatin satu per satu batu gede. Ada yang susah, ada yang gampang. Asik asik!
Lama-lama ada yang ga beres lagi, ada kejanggalan.

Iqi: "Bener ga sih, yang ini jalannya?"
Jul: "Gw juga ragu"
Iqi: "Terus gimana?"

Kita sepakat: HAJAR BLEH! Kalau disusurin terus, pasti bakal ketemu hulu-nya. Ga peduli. Jalan terus.

Lama-lama
"Eh, eh, itu curugnya udah keliatan!"

Semua bersorak. Bergembira. Berasa menangin perang.
Percepat langkah, menuju curug. Foto-foto itu mesti. Alhamdulilah, pada bawa kamera mahal. Kalo ga ada yang bawa kamera, kemanapun pergi, pasti ga ada yang mau ikut. Percuma katanya. Ga ada bukti. Buat dipamer. Ke anak cucu.

Kecipak. Kecipuk. Tepok-tepok air. Tampar-tampar air. Siram si ini. Siram si itu. Persis gadis desa kecentilan.
Munculah ide-ide nyeleneh. Kita bikin pidio klip. Yang cewe meranin iklan shampoo, yang cowok kepingin difoto dengan berbagai trick supaya terlihat seolah-olah mereka sedang telanjang.

Asli. Ca'ur!
Kita geli sendiri nge-replay foto-foto dan vidio cacat diri sendiri.
Lagi-lagi, ketawa sampai keselek monyet.

"Hahaahaha"
"Udah ah udah ah"
"Cape tau, rahang gw sakit"
"Aduh gw lemes"
"Sama"
"Eh, liat deh disini si Ondo tampangnya..".*tunjuk lcd
"Huaahahahahaha"
*Ga berenti-berenti

Hari sudah siang.
Kita harus pulang.

Sepanjang perjalanan pulang juga tetep foto2.

Pernah, ditengah perjalanan:
Aku: "Eh, ada uler merayap di celana gw! ulernya kecil!" (Kira-kira 10 cm. Warnanya krem)
*Sentil uler. Uler mental. Problem solved. Ha ha ha

Perjalanan pulang ga sesusah dan selama perjalanan berangkat. Selalu gitu.
Akhirnya, sampai juga di batu gede. Tempat kita menaruh sepatu. Sepatunya susah diambil. Masuk ke celah batu yang sempit.

"Tangan gw gendut, ga masuk"." Tangan lu aja"." Tangan gw bisa sih masuk, tapi pendek, ga nyampe"."Bego sih lu, lempar sepatu pake birahi segala nyangsang kan jadinya"."Hahahaha".

Ha ha ha. Tiap ada masalah atas ketidaksempurnaan kita, kita tinggal ketawain bareng-bareng. Ngetawain diri sendiri lagi. Begitulah, bermain bersama manusia pendek akal. Hidup tidak pernah merasa semudah ini. :'D

Komentar