Kisah si Katak Betina #episode spesial
Katak betina hampir lupa bahwa hari ini ia harus melakukan sebuah ritual. Namun hari ini terasa biasa saja,,apakah karena intuisinya yang tidak setajam dulu? Akhir-akhir ini cermin hati-nya pun menjadi sedikit lebih pendiam dari biasanya.
Biasanya teman-teman katak dari negeri wonderland akan datang hari ini untuk melakukan ritual itu - ritual yang ia lakukan setiap tahun: pura-pura kaget ketika salah satu dari mereka datang tak diundang dengan menyergapnya dari belakang, berteriak dusta ketika sekawanan burung gagak mengacaubalaukan penampilannya, menumpahkan sesuatu yang bau dan lengket, pura-pura tak berdaya ketika mereka bersandiwara meninggalkannya dalam keadaan terikat, kemudian tertawa terpingkal-pingkal menyadari betapa hebohnya kekacauan yang telah mereka perbuat, lalu di petang hari mereka akan berkumpul bersama, bernyanyi, dan meniup bunga-bunga dandelion dan menghanyutkan serpihannya di sungai harapan. Lalu satu persatu dari mereka akan pulang dan membisikkan mantra doa ketika berpeluk pamit.
Ritual itu memang bukan suatu keharusan. Tapi hari itu sang katak merindukkan gagak-gagak itu. Hari sudah petang, tapi tak satu pun dari mereka datang. Mungkin mereka sibuk. Bahkan si cermin pun membisu seharian…okei, tidak masalah,,pikirnya.
Perlahan sang katak turun dari singgasananya, daun teratai raksasa. Ia merenangi kolam yang keemasan diterpa sinar sunset. Lalu ia menepi, keluar dari kolamnya dengan langkah malas. Ia terus melompat dan melompat.
Ia tidak tahu kemana ia akan pergi, tapi ia tahu tujuannya: sungai harapan. Ia terus melompat menuju sungai harapan yang ia sendiri lupa dimana letaknya.
Di tengah perjalanan ia kembali bertemu dengan kelelawar hitam. Katak betina mendongak memperhatikan si kelelawar hitam yang tak kunjung mendarat. Ia hanya mengibas-ngibaskan sayapnya memutari si katak betina
"apa yang akan kau lakukan?" tanya katak heran
"aku akan menculikmu.." bisiknya
Kelelawar mencengkram punggunng katak betina. Dalam sekejap sang katak merasakan tubuhnya membumbung tinggi ke udara,,ia terbang!
"kelelawar,," ujar katak betina
"ada apa katak?" tanya kelelawar
"aku…lapar" jawab si katak dengan hambarnya.
"ba..baiklah"
Lalu sang kelelawar mendaratkan katak di sebuah daun keladi yang dipenuhi tetesan embun segar. Tak jauh dari daun keladi tempat mereka berpijak, disana ada kebun strawberry, avocad, guava, mapple, dan salju rasa vanila yang dilumeri oleh syrup mapple. "Aku mau semuanya!"sang katak bersorak sorai. Dengan brutal si katak betina melahap semua yang ada di hadapannya.
Kelelawar hanya melongo tak percaya. "Katak, wanita macam apa kau?!"
"wa..ni..ta ku..rus" jawabnya dengan mulut penuh strawbery. Saking penuhnya ia mengalami kesulitan untuk mengunyah dan menelannya secara bersamaan.
"Negeri macam apa ini?",katak betina dan kelelawar sangat takjub. Para tonggeret penghuni negeri ini sangat baik hati,,katak diperbolehkan makan apa yang mereka suka tanpa harus membayar. Well, ini diluar dari ritual..tapi boleh juga, batinnya.
Makan malam itu membuat si katak kekenyangan.
"kelelawar, kemana kau akan menculikku?"
"titik tertinggi negeri ini"
Mata katak langsung membulat dan berbinar. Tapi beberapa detik kemudian, ia merasakan keraguan ketika mendengar langit bergemuruh. Keraguan di air muka katak membuat si kelelawar merasa tidak yakin. "oke, lain kali saja katak!"
Katak pun mengangguk lemah.
Sebagai penggantinya, kelelawar mengajak katak pergi ke negeri seberang. Disana mereka duduk di bangku taman sambil melihat pohon-pohon yang dilukis. Katak betina bersyukur akan penculikkan singkat itu. "kelelawar, jika tidak ada penculikkan ini, mungkin tahun depan atau tahun depannya lagi aku akan lupa bahwa hari ini pernah ada..terimaksih". Kelelawar hanya menyeringai, setelahnya ia mengantar katak betina pulang.
Sekarang katak betina sudah di depan sungai harapan. Malam itu sedikit lebih tenang dari biasanya. Hanya ditemani para jangkrik yang me-rik-rik, katak memandang aliran sungai yang begitu tenang mengalir. Di pinggir sungai itu, katak betina dapat meihat malaikat penunggu sungai harapan. Seperti bagian dari ritual, si malaikat akan berkata,"hai kau, akhirnya kita bertemu lagi!" Selanjutnya ia akan berbisik bahwa waktunya tak akan lama lagi dan ia harus menghargai detik dan menit yang berlalu setelah ini. Katak tahu itu, bahwa waktu tidak bisa kembali. Katak betina teringat ketika malam tahun baru, ketika semua orang berteriak menghitung mundur untuk meledakkan kembang api, katak betina terpaku memikirkan bagaimana hitungan itu "sepuluh,,sembilan,,delapan,,tujuh…." tidak akan kembali. Bahkan ketika kembang api belum siap untuk diledakkan, hitungan itu tidak akan bisa diulang menjadi "duapuluh,, sembilanbelas,, delapanbelas,," dan seterusnya dan tahu-tahu dalam sekejap kita telah memasuki tahun yang baru, dengan pesta kembang api atau tidak dengan kembang api, suka atau tidak suka. Waktu benar-benar berlari tanpa mau tahu.
Memikirkan itu katak merasa sesak di dadanya, begitu banyak hal yang harus dilakukannya, tapi ia merasa sehari 24 jam itu tidak pernah cukup! Ia hanya membawa "wish list" di sakunya kemana-mana tanpa pernah bisa mencoret salah satu baris, dari daftar panjang itu.
"malaikat, aku bosan hidup di dalam imajinasi! Aku bosan hidup di negeri dongeng ini,,"
"katak, apa salahnya dengan negeri dongeng ini?"
"aku seperti orang dungu,,maksudku, katak dungu"
"katak, berbicara dengan cermin hati bukan lah dungu,,tapi kau belajar melihat segala-sesuatunya dari sudut pandang yang berbeda. Dan itu sangat menolongmu dalam mengobati rasa pedih atau pun putus asa. Teruslah mendengarkan kata-kata hatimu, katak. Jangan kau acuh kan dia,,karena semakin kau mengacuhkannya, itu sama saja membuat ia bisu perlahan,,sampai suatu hari nanti kau sadar ia telah lama mati. Dan kau akan tersesat di jalanan sepi. Apakah kau lupa? Selalu ada makna dibalik semua pertanda. Dan bisikan hatimu-lah yang akan membantumu dalam menemukan pertanda dan mengartikannya. Hanya orang-orang yang berpikir yang akan mengerti, katak."
"Tapi aku takut wahai malaikat!"
"apa yang kau takutkan?"
"aku takut suatu hari nanti aku terbangun di pagi hari dan sadar aku belum berhasil menggapai satu pun dari mimpi-mimpiku karena aku terlalu terlelap di dunia imajinasi ini dan waktu terus berjalan tanpa mau tahu..aku tidak mau seperti katak di dalam tempurung yang belum melihat luasnya dunia, tanpa tahu apa itu cakrawala, tanpa tahu sedalam apa itu lautan, tanpa tahu seperti apa tersesat dalam hutan, tanpa tahu rasanya menghirup udara di puncak gunung, atau bagaimana rasanya menari dengan lumba-lumba"
"aku takut suatu hari nanti aku terbangun di pagi hari dan sadar aku belum berhasil menggapai satu pun dari mimpi-mimpiku karena aku terlalu terlelap di dunia imajinasi ini dan waktu terus berjalan tanpa mau tahu..aku tidak mau seperti katak di dalam tempurung yang belum melihat luasnya dunia, tanpa tahu apa itu cakrawala, tanpa tahu sedalam apa itu lautan, tanpa tahu seperti apa tersesat dalam hutan, tanpa tahu rasanya menghirup udara di puncak gunung, atau bagaimana rasanya menari dengan lumba-lumba"
"Lihat kilatan mata mu katak! Ketika kau berkoar-koar barusan, dari matamu aku bisa bertaruh, kau tidak akan dapat dipisahkan dari dunia imajinasi dan suara hati mu. Kau hidup berdasarkan intuisi itu. Astaga, percayalah katak, imajinasi-mu lah yang akan mengantarkau kau kesana"
Katak betina tergugu mendengar ucapan terkhir si malaikat yang perlahan2 sosoknya memudar, waktu menunjukkan pukul 23.59 itu artinya 1 menit lagi hari spesialnya akan berpindah ke hari biasa-biasa saja. Hari ini ia menghabiskan waktunya dengan menunggu datangnya para gagak. Mungkin teman-temannya tidak berfikir ini hari yang spesial. Rasanya hatinya terenyuh mengasihani dirinya sendiri..kenapa ia begitu naif segala sesuatu harus berjalan sebagaimana normalnya..hidup ini tidak melulu seperti ketika ia berusia 5 tahun, mengingat orangtuanya dulu begitu menjaga dirinya agar selalu merasa senang setiap saat. Namun, semakin dewasa kita, semakin orang2 berbalik menyerahkan kebahagiaan seperti cucian kotor dan berharap kita urusi sendiri. Ya, kebahagiaan atas diri kita terletak pada tangan kita sendiri, terlepas dari normalitas ataupun absurditas. Itu semua tergantung dari cara kita memandang kebahagian.
Di detik-detik terakhir lenyapnya si malaikat, katak meniupkan dandelion. Ibarat meniup salju ringkih yang meleburkan diri dengan aliran sungai yg mengalir. Si Katak memejamkan matanya, berharap cermin autisnya kembali.
"hai katak, aku merindukanmu"
Samar-samar ia mendengar suara lembut yang sangat ia kenal.
"cermin, apakah itu kau? Tapi dimana kau? Aku tidak dapat melihatmu"
"aku disini bodoh! Di dalam hatimu. Aku sudah bertransofmasi, menyusup kedalam jiwamu. Aku suara hatimu. Nuranimu."
Katak merasa kedua belah matanya memanas, tanpa bisa ia cegah air matanya menetes,"cermin, jangan pergi lagi..aku bisa kehilangan arah tanpamu.."
"aku akan selalu ada selama kau peka akan bisikan-bisikanku..ketika kau dalam kadaan gamang dan sulit memilih, dengarkan aku! Aku bisa mengetahui alasan-alasan yang tidak diketahui akal"
Si katak pulang, ia bahagia di hari indahnya, ia menemukan teman sejati, yaitu hati nuraninya sendiri. Bersahabat dengan diri sendiri adalah sumber kebahagiaan, kau tidak perlu menentang, menghakimi, maupun membandingkan diri dengan oranglain. Terima sajalah kau apa adanya, kelebihanmu, dan selebihnya adalah kekuranganmu, itu adalah kau.
25 maret 2010
*pic from kagaya
*pic from kagaya

Komentar
Posting Komentar